KEJARNEWS. COM, DEPOK – Lapangan SMP Negeri 9 Depok bergemuruh oleh hentakan kaki ratusan pelajar pada Sabtu (25/7/2026). Ajang Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB) ARCAPADA (Aksi Generasi Cerdas Punggawa Masa Depan Bangsa) kembali digelar untuk ketiga kalinya, menghadirkan spectaculer visual bertema “Echoing the Heritage of Dayak: From Sacred Roots To Timeless Stories”.

Meski target awal 65 tim belum terpenuhi, antusiasme 52 tim yang berasal dari lima kota besar di Pulau Jawa—Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi—terbilang sangat tinggi. Bahkan, sejumlah kontingen rela menginap di lingkungan sekolah sejak malam sebelumnya untuk memastikan kesiapan fisik dan mental menjelang lomba.
Satu-Satunya Event LKBB Bertema Budaya di Tingkat SMP
Kepala SMPN 9 Depok, Agus Purwanto, menekankan keunikan ARCAPADA yang tidak dimiliki event serupa. Jika kebanyakan lomba baris-berbaris hanya fokus pada kekompakan gerak, ARCAPADA mengintegrasikan nilai budaya melalui tema Dayak yang kental dalam variasi formasi dan kostum.
“SMPN 9 Depok adalah satu-satunya sekolah menengah pertama yang menyelenggarakan event LKBB skala regional seperti ini. Awalnya hanya aktivitas Paskibra internal, kini telah bertransformasi menjadi agenda tahunan bergengsi,” ujar Agus.
Ia menambahkan bahwa event ini bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah pembentukan karakter. “Melalui ARCAPADA, siswa belajar disiplin, fokus, taat aturan, serta gotong royong. Minimal lima dari delapan dimensi profil kelulusan siswa tercermin langsung di lapangan,” jelasnya.
Penilaian Ketat oleh TNI-Polri dan Juri Profesional
Standar penilaian tahun ini dinaikkan levelnya. Dewan juri terdiri dari unsur militer elit seperti Mabes TNI, Kodim, dan Korps Marinir yang menilai aspek Peraturan Baris Berbaris (PBB) secara ketat. Sementara itu, dua juri profesional bertugas menilai kreativitas variasi dan formasi.
Ketua Panitia, Friska (Fika), menjelaskan bahwa setiap tim terdiri dari 13–16 orang dengan durasi penampilan maksimal 9 menit 30 detik. “Kelebihan waktu akan dikenakan pengurangan poin. Kami menilai segala aspek kecuali make-up, karena fokus kami adalah ketajaman gerak, kepemimpinan danton, dan estetika formasi,” ujarnya.
Juara umum ditentukan dari akumulasi nilai danton, PBB, serta variasi formasi, selain memperebutkan piala bergilir dan sertifikat yang sedang diupayakan agar diakui oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).
Mandiri Secara Finansial, Berkualitas Secara Prestasi
Uniknya, seluruh biaya penyelenggaraan ARCAPADA 2026 murni berasal dari swadaya peserta (by participants, for participants). Tidak ada anggaran sekolah atau sponsor besar yang mendominasi, membuktikan kemandirian organisasi siswa.
Peserta yang hadir pun bukan kaleng-kaleng. Sejumlah sekolah dengan rekam jejak nasional turut serta, seperti SMPN 8 Bogor dan SMK PGRI 1 Balaraja. Kehadiran mereka menjadikan persaingan tahun ini semakin sengit.
Koordinator Acara, Asep, mengungkapkan kebanggaannya terhadap dedikasi peserta. “Meski jumlah tim 52 dari target 65, kualitasnya luar biasa. Mereka datang jauh-jauh, tidur di sekolah, demi menunjukkan yang terbaik. Ini bukti bahwa ARCAPADA sudah memiliki tempat di hati komunitas Paskibra se-Jawa Barat,” katanya.
Ke depan, panitia berencana memperluas cakupan dengan membuka kategori Sekolah Dasar (SD) dan memperpanjang durasi acara menjadi dua hari jika peminat bertambah.
Dengan suksesnya penyelenggaraan tahun ketiga ini, SMPN 9 Depok kian kukuh posisinya sebagai inkubator talenta baris-berbaris yang tidak hanya unggul dalam disiplin, tetapi juga kaya akan nilai budaya.
(ish)






