KEJARNEWS. COM, DEPOK – Kabar baik akhirnya menyapa warga Kampung Bulak Barat, Kecamatan Cipayung. Genangan air yang selama empat tahun terakhir memutus akses jalan penghubung menuju Pasir Putih kini mulai surut pada Agustus 2026. Berkat pengerahan alat berat untuk normalisasi Kali Pesanggrahan dan penanganan longsoran sampah dari TPA Cipayung, badan jalan yang sebelumnya tertutup lumpur tebal kini kembali bisa dilalui masyarakat.
Aksi Cepat di Musim Kemarau
Memanfaatkan momentum musim kemarau panjang, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok bergerak cepat melakukan pengerukan lumpur dan revitalisasi aliran sungai. Untuk menangani dampak longsoran sampah yang telah merendam kawasan tersebut, Pemkot menggelontorkan Dana Biaya Tak Terduga (BTT) senilai lebih dari Rp1 miliar pada Agustus 2026.
“Kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada warga yang bertahun-tahun merasakan kebanjiran. Langkah pertama kami adalah menyelesaikan masalah utamanya, yaitu sampah,” ujar Wali Kota Depok, Supian Suri, melalui akun Instagram resminya.
Jejak Sejarah: Ketika Jembatan Menjadi “Penghalang”
Surutnya banjir ini membuka kembali luka lama terkait desain infrastruktur di lokasi tersebut. Berdasarkan penelusuran dokumen anggaran tahun 2016, proyek peningkatan Jalan Pasir Putih dengan pagu Rp700 juta telah selesai melakukan perbaikan jalan jembatan yang memanjang dari zona aman Kampung Bulak hingga Pasir Putih.Namun dalam kegunaannya banjir terus melenggang jika hujan datang.
Kabid DPUPR Jalan Jembatan Artanto saat itu, pernah melontarkan kepada media saat ditemui dilokasi TPA mengatakan bahwa jembatan pasir putih akan dilakukan dari titik ketinggian jalan Pasir Putih sampai titik ketinggian kampung Bulak Barat, bukan sebatas lebar kali pesanggrahan. Namun, rencana ambisius itu kandas akibat penolakan warga terdampak terkait ganti rugi. Akibatnya, Dinas PUPR saat itu melanjutkan pembangunan jembatan hanya selebar badan Kali Pesanggrahan (sekitar 10 meter).
Fakta pahitnya, jembatan yang terlalu pendek dan rendah tersebut justru menjadi “bendungan alami” bagi tumpukan sampah dari Bogor saat hujan deras. Aliran sungai yang seharusnya lebar 10 meter menyempit drastis menjadi hanya 1 meter karena tersumbat sampah, menyebabkan luapan air menggenangi permukiman di sisi kanan-kiri sungai.
“Jembatan selayaknya direncanakan memanjang, bukan sekadar seukuran lebar kali. Desain yang tidak maksimal inilah yang memperparah genangan,” jelas seorang tokoh masyarakat setempat.
Warga Bersyukur, Namun Was-was
Ibu Nia, seorang warga Bulak Barat, mengaku sangat bersyukur jalannya kini bisa diakses kembali. Namun, ia masih menyimpan kekhawatiran. “Tadi malam (Rabu, 19/8) sekitar pukul 21.30 WIB banjir kembali melanda, meski baru surut pagi harinya. Kami takut efek jembatan yang masih menjadi penghalang laju air dan sampah akan terus berulang,” keluhnya.
Ketua LSM Semi Tahun SH juga menyoroti transparansi anggaran masa lalu, mencatat bahwa proyek 2016 tersebut seharusnya menjadi fondasi penataan jalan yang lebih holistik sebelum bencana sampah menumpuk di tahun-tahun berikutnya.
Rencana Jangka Panjang: Jembatan Baru
Menyadari bahwa normalisasi sungai hanyalah solusi jangka pendek, Wali Kota Supian Suri menegaskan komitmen Pemkot untuk membangun jembatan baru di titik tersebut. Revitalisasi total diharapkan dapat mengembalikan fungsi Kali Pesanggrahan sebagai jalur drainase utama sekaligus akses mobilitas warga yang aman dan nyaman.
Kabid Jalan Jembatan Teguh Iswahyudi ST, saat dikonfirmasi di kantor DPUPR terkait hal pembangunan jembatan Pasir Putih ini, sudah sampai tiga kali tidak pernah respon dan tanggap atas aduan masyarakat, serasa kantor DPUPR Depok mengunjungi kantor Istana Negara.
Seorang kontraktor dilokasi kantor PUPR menyayangkan, Kadis PUPR menata aturan bagi tamu yang berkunjung di kantor PUPR ber-interaksi dengan pejabat sangat tidak nyaman “Ini pertama satu-satunya kantor Dinas PUPR, serasa perusahaan pribadi, ” ujarnya.
Bagi warga Bulak Barat, surutnya banjir abadi ini adalah awal dari babak baru. Mereka berharap kolaborasi antara pembersihan sampah, perbaikan infrastruktur, dan partisipasi warga dapat mencegah terulangnya mimpi buruk empat tahun terakhir. (ish)






