Tak Bisa Bekerja Sendiri, SMPN 9 Depok Gandeng Dinas Pendidikan dan Wali Murid Dampingi 30 Anak Istimewa

KEJARNEWS.COM, DEPOK | Pendidikan inklusif membutuhkan sinergi yang kuat antara sekolah dan keluarga. Menyadari hal tersebut, SMPN 9 Depok menggelar *workshop* khusus bersama wali murid anak berkebutuhan khusus (ABK) atau anak istimewa.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Multimedia sekolah, Jumat (9/10/2026), ini menjadi wadah kolaborasi untuk menyamakan persepsi, berbagi pengetahuan, serta membangun kerja sama yang solid antara guru dan orang tua demi tumbuh kembang anak yang optimal.

Kepala SMPN 9 Depok, Agus Purwanto, M.Pd., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kehadiran para wali murid. Dengan jujur dan penuh empati, ia mengakui bahwa mendidik 30 anak istimewa di sekolah menuntut perhatian dan penanganan yang tidak biasa.

“Kami menyadari bahwa untuk mendidik tiga puluh anak istimewa ini, sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Penanganan mereka membutuhkan pendekatan yang sangat khusus, sehingga kerja sama dengan orang tua adalah sebuah keharusan,” ujar Agus di sela-sela acara.

Untuk memperkuat kapasitas pendampingan, SMPN 9 Depok bermitra dengan Dinas Pendidikan Kota Depok, khususnya Bidang Layanan Inklusi jenjang SMP. Dalam acara ini, sekolah menghadirkan narasumber ahli, Nina Fajri dari Dinas Pendidikan, untuk memberikan paparan strategis.

Agus menjelaskan, terkadang guru Bimbingan Konseling (BK) dan wali kelas menghadapi kendala saat siswa mengalami gangguan emosional atau *tantrum*. “Oleh karena itu, Ibu Nina Fajri hadir memberikan tips dan strategi penanganan yang tepat bagi kami dan para orang tua ketika anak mengalami kondisi tersebut,” tambahnya.

Sebagai langkah konkret, SMPN 9 Depok menerapkan formula pendampingan waktu “2:6:1” untuk memastikan anak mendapat perhatian yang seimbang antara sekolah dan rumah.

“Pola 2:6:1 ini adalah komitmen kami bersama orang tua. Artinya, 2 jam pendampingan di rumah, 6 jam proses belajar di sekolah, dan 1 jam untuk kegiatan ekstrakurikuler. Ini adalah upaya kita bersama untuk membantu Bapak/Ibu dalam mengatur ritme penanganan anak istimewa,” jelas Agus.

Melalui forum diskusi interaktif ini, Agus berharap para wali murid dan guru dapat bersama-sama mencari solusi atas hambatan yang dihadapi, baik dari sisi medis, psikologis, maupun akademis.

“Harapan kami, anak-anak istimewa ini tidak hanya mendapatkan pendidikan yang tepat di sekolah, tetapi juga tumbuh di lingkungan rumah yang suportif (*supportive environment*). Mari kita wujudkan ruang aman dan nyaman bagi mereka,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *