KEJARNEWS.COM ,Sabtu (22/8/26) DEPOK – Di tengah tantangan hasil PISA 2022 yang menunjukkan kemampuan sains dan matematika siswa Indonesia masih di bawah rata-rata OECD, Universitas Pertamina (UPER) mengambil langkah strategis untuk mendekatkan isu kompleks transisi energi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), UPER menggandeng SMAN 1 Depok dalam pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PBL) pada Mei dan Juni 2026.
Program hibah internal PkM UPERAISAL 2026 ini merupakan kolaborasi unik antara Program Studi Hubungan Internasional dan Teknik Logistik. Tujuannya jelas: melatih siswa tidak hanya menghafal konsep energi, tetapi juga mampu membaca data, berpikir kritis, dan memahami keterkaitan aspek teknologi, sosial, ekonomi, serta lingkungan.
Dari Teori ke Aksi Nyata
Ketua Tim PkM sekaligus Dosen Hubungan Internasional UPER, Silvia Dian Anggraeni, menekankan pentingnya konteks dalam belajar. “Kami memilih PBL agar siswa tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi mampu melihat keterkaitannya dengan persoalan di sekitar mereka. Pengalaman ini membuat pengetahuan menjadi lebih relevan dan kontekstual,” ujarnya.
Pendekatan ini didukung oleh meta-analisis Zhang dan Ma (2023) yang membuktikan bahwa PBL berdampak positif signifikan terhadap capaian akademik dan keterampilan berpikir kritis. Dalam praktiknya, siswa diajak mendiskusikan studi kasus transisi energi yang kemudian mereka olah menjadi proyek infografis yang informatif dan kreatif.
Bukti Nyata: Skor Pemahaman Naik 6,15 Persen
Efektivitas metode ini terbukti secara kuantitatif. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata skor pemahaman siswa sebesar 6,15 persen, dari 84,2 pada pre-test menjadi 89,38 pada post-test.
Puncak kegiatan berlangsung pada 19 Juni 2026, di mana 16 kelompok mempresentasikan gagasan mereka di hadapan tim dosen UPER. Enam kelompok terbaik mendapat apresiasi khusus berkat kreativitas, kedalaman substansi, dan kemampuan komunikasi data yang tajam.
“Siswa belajar memilah informasi relevan dan mempertahankan gagasan berbasis data. Ini membantu mereka memahami isu energi secara kritis dari berbagai perspektif,” tambah Silvia.
Kontribusi UPER untuk SDGs dan Generasi Masa Depan
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menilai bahwa literasi energi harus berjalan beriringan dengan kemampuan adaptasi dan pemecahan masalah.
“Transisi energi membutuhkan generasi yang solutif dan adaptif. Melalui peminatan Geopolitik dan Keamanan Energi di Prodi HI, kami mengintegrasikan pemahaman ini dalam proses pendidikan. Ini adalah kontribusi nyata UPER terhadap pencapaian SDGs, khususnya pendidikan berkualitas dan energi bersih terjangkau,” tegas Prof. Ichsan.
Dengan membekali siswa SMAN 1 Depok dengan keterampilan abad 21, UPER berharap dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya siap menghadapi ujian akademis, tetapi juga siap menjawab tantangan besar bangsa dalam transisi menuju energi berkelanjutan. (ish)






